Selasa, 30 Desember 2008

SOSIOLOGI MAKALAH

BAB I

KEKUASAAN

1.1. Pengertian

Kekuasaan menentukan peran yang dapat menentukan nasib berjuta- juta manusia. Oleh karena itu kekuasaan (power) sangat menarik perhatian para ahli ilmu pengetahuan kemasarakatan. Sesuai dengan sifatnya ilmu pengetahuan, sosiologi tidak memandang kekuasan sebagai sesuatu yang baik atau yang tidak baik. Sosiologi mengakui kekuasaan sebagai unsure yang sangat penting dalam kehidupan suatu masarakat. Karena kekuasaan sendiri itu mempunyai sifat yang netral, maka menilai baik atau buruknya harus dilihat pada penggunaanya bagi keperluan masarakat. Makna dari kekuasaan itu sendiri adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan. Menurut Mc Iver kekuasaan dalam masarakat selalu berbentuk piramida. Piramida kekuasaan menandakan bahwa pada kenyataanya pada masarakat golongan yang berkuasa relative lebih kecil dari yang di kuasai.

1.2. Hakikat Kekuasaan dan Sumbernya

Kekuasaan terdapat di semua bidang kehidupan yang kita jalankan. Kekuasaan mencakup kemampuan untuk memerintah (agar yang di perintah patuh) dan juga untuk memberi keputusan- keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tindakan- tindakan pihak- pihak lainya. Kekuasaan mempunyai bermacam- macam bentuk dan sumber. Hak milik keberadaan dan kedudukan merupakan sumber kekuasaan. Birokrasi adalah merupakan salah satu sumber kekuasaan, di samping kemampuan khusus di dalam bidang- bidang ilmu- ilmu pengetahuan yang tertentu ataupun atas dasar peraturan- peraturan hukum yang belaku. Jadi, kekuasaan terdapat di mana- mana, di dalam hubungan social maupun di dalam organisasi- organisasi social. Akan tetapi, pada umumnya kekuasaan yang tertinggi berada pada organisasi yang di namakan “Negara”.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa sifat hakekat kekuasaan dapat terwujud dalam hubungan yang simetris dan asimetris. Masing- masing hubungan terwujud dalam kehidupan sehari- hari sehingga kita dapat menarik sebuah gambaran sebagai berikut:

1. Simetris

a. Hubungan persahabatan

b. Hubungan sehari- hari

c. Hubungan yang bersifat ambivalen

d. Pertentangan antara mereka yang sejajar kedudukanya

2. Asimetris

a. Popularitas

b. Peniruan

c. Mengikuti perintah

d. Tunduk kepada pemimpin formal atau informal

e. Tunduk pada seorang ahli

f. Pertentangan antara mereka yang tidak sejajar kedudukanya

g. Hubungan sehari- hari

1.3. Unsur- unsur Saluran Kekuasaan dan Dimensinya

Kekuasaan yang dapat dijumpai pada interaksi social antara manusia maupun kelompok mempunyai beberapa unsure pokok, yaitu sebagai berikut.

1. Rasa Takut

Perasaan takut kepada seseorang (yang merupakan penguasa misalnya) menimbulkan suatu kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang ditakuti tadi. Rasa takut merupakan perasaan negative karena sesorang tunduk terhadap orang lain karena terpaksa. Orang yang mempunyai rasa takut akan berbuat segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan seseorang yang ditakutinya agar terhindar dari kesukaran- kesukaran yang akan menimpa dirinya, seandainya dia tidak patuh. Rasa takut juga menyebabkan orang yang bersangkutan meniru tindakan- tindakan orang yang ditakutinya. Gejala ini yang di namakan matched dependent behavior, yang mempunyai tujuan kongkret bagi yang melakukanya. Rasa takut merupakan gejala- gejala universal yang terdapat di mana- mana dan biasanya di pergunakan sebaik- baiknya dalam masarakat yang mempunyai pemerintahan otoriter.

2. Rasa Cinta

Rasa cinta menghasilkan perbuatan- perbuatan yang pada umumnya positif. Orang- orang lain bertindak sesuai dengan kehendak pihak yang berkuasa untuk menyenangkan semua pihak. Artinya ada titik pertemuan antara pihak- pihak yang bersangkutan. Rasa cinta biasanya telah mendarah daging (internalized) dalam diri seseorang atau kelompok orang. Rasa cinta yang efisien seharusnya dimulai dari pihak yang berkuasa. Apabila ada suatu reaksi positif dari masarakat yang dikuasai, kekuasaan akan berjalan dengan baik dan teratur.

3. Kepercayaan

Kepercayaan akan bisa timbul sebagai hasil hubungan langsung antara dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif. Kepercayaan biasanya bersifat pribadi, tetapi mungkin saja hubungan itu akan berkembang secara luas dalam suatu organisasi social atau masarakat. Soal kepercayaan memang sangatlah penting demi kelangengan suatu kekuasaan.

4. Pemujaan

Di dalam pemujaan, seseorang atau sekelompok orang yang memegang kekuasaan mempunyai dasar- dasar pemujaan dari orang lain. Akibatnya, adalah segala tindakan penguasa dibenarkan atau setidaknya dianggap benar.

Apabila di lihat dalam masarakat, kekuasaan di dalam pelaksanaanya di jalankan melalui saluran- saluran tertentu. Saluran- saluran tersebut banyak sekali, tetapi kita hanya akan membatasi diri pada saluran- saluran sebagai berikut:

a. Saluran Militer

b. Saluran Politik

c. Saluran Ekonomi

d. Saluran Tradisional

e. Saluran Idiologi

f. Saluran- saluran lainya (misalnya alat- alat komunikasi massa)

1.4. Kategori Kekuasaan

- Secara Vertical, yaitu pembagian kekuasaanya menurut tingkatan, maksudnya pembagian kekuasaan beberapa tingkat kekuasaan beberapa tingkat pemerintahan. Pembagian kekuasaan seperti ini, dapat di lihat pada Negara kesatuan, Negara federal dan konfederasi.

- Secara Horisontal, yaitu pembagian kekuasaan menurut fungsinya (trias politica).

1.5. Beberapa Bentuk Lapisan Kekuasaan

Lihat buku SOSIOLOGI SUATU PENGANTAR karangan Soerjono Soekanto hal 239- 242.

1.6. Cara- Cara Mempertahankan Kekuasaan

1. Dengan jalan meninggalkan segenap peraturan- peraturan lama, terutama dalam bidang politik, yang merugikan kedudukan penguasa.

2. Mengandakan sitem- system kepecayaan

3. Pelaksanaan system administrasi dan birokrasi yang baik

4. Mengadakan konsolidasi secara Vertikal dan Horisontal

BAB II

WEWENANG

2.1. Pengertian

Sebagaimana dengan kekuasaan, weenang juga terdapat dimana- mana, walaupun tidak selamanya kekuasaan dan wewenang berada di satu tangan. Wewenang dimaksudkan sebagai suatu hak yang telah di tetapkan dalam tata tertib social untuk menetapkan kebijaksanaan, menentukan keputusan- keputusan mengenai masalah- masalah penting, dan untuk menyelesaikan pertentangan- pertentangan. Dengan kata lain seseorang yang mempunyai wewenang bertindak sebagai orang yang memimpin atau membimbing orang banyak. Wewenang adalah hak yang di miliki seseorang atau sekelompok orang. Tekananya adalah pada hak bukan kekuasaan. Dipandang dari sudut pandang masarkat adalah kekuasaan tanpa wewenang merupakan kekuasaan yang tidak sah. Kekuasaan harus mendapatkan pengakuan dan pengesahan dari masarakat agar menjadi wewenang. Wewenang ada beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut:

2.1.1. Wewenang Kharismatis, Tradisional, dan Rasional (legal)

Perbedaan antara wewenang kharismatis, tradisional, dan rasional di kemukakan oleh Max Weber. Perbedaantersebut didasarkan pada hubungan antara tindakan dengan dasar hukum yang berlaku. Wewenang kharismatik tidak diatur oleh kaidah- kaidah, baik yang tradisional maupun rasional. Sifatnya cenderung irasional. Adakalanya charisma dapat hilang karena masarakat sendiri yang berubah dan mempunyai paham yang berbeda. Perubahan- perubahan tersebut sering kali tak dapat di ikuti oleh orang yang mempunyai wewenang kharismatis tadi sehingga dia tertinggal oleh kemajuan masarakat. Wewenang tradisional dapat di miliki oleh seseorang atau sekelompok orang. Dengan kata lain, wewenang tersebut dapat dimiliki oleh orang- orang yang mempunyai anggota kelompok. Cirri- cirri utama wewenang tradisional adalah:

1. Adanya ketentuan- ketentuan tradisional yang mengikat pengusaha yang mempunyai wewenang, serta orang- orang lainya dalam masarakat.

2. Adanya wewenang yang lebih tinggi ketimbang kedudukan orang yang hadir secara pribadi.

3. Selama tak ada pertentangan dengan ketentuan- ketentuan tradisional, orang- orang dapat bertindak secara bebas.

Wewenang rasional atau legal adalah wewenang yang di sandarkan pada system hukum yang berlaku dalam masarakat. System hukum disini di pahamkan sebagai kaidah- kaidah yang telah diakui serta ditaati masarakat dan bahkan telah di perkuat oleh Negara.

2.1.2. Wewenang Resmi dan Tidak Resmi

Wewenang yang resmi biasanya bersifat sismatis , diperhitungkan dan rasional. Biasanya wewenang seperti ini sering kita jumpai pada kelompok- kelompok besar yang memerlukan tata tertib serta aturan- aturan yang tegas dan bersifat tetap. Sementara kebalikan dari itu kelompok- kelompok kecil biasanya menggunakan wewenang yang bersifat tidak resmi. Tapi kesimpulan ini tidak tetap karena terkadang kelompok- kelompok kecil tadi mungki saja berusaha untuk menjadikan wewenang tidak resmi menjadi resmi karena terlalu sering terjadi pertikaian antar anggota.

2.1.3. Wewenang Pribadi dan Teritorial

Perbedaan antara wewenang pribadi dan wewenang territorial sebenarnya timbul dari sifat dan dasar kelompok- kelompok social tertentu. Kelompok- kelompok tersebut mungkin timbul karena factor ikatan darah, atau mungkin juga karena factor tempat tinggal, atau karena gabungan kedua factor tersebut. Di Indonesia di kenal kelompok- kelompok atas dasar ikatan darah, misalnya marga, belah, dan seterusnya. Sebaliknya di kenal pula nama desa, yang lebih di dasarkan pada fktor territorial. Wewenang pribadi sngat bergantung pada solidaritas antara angota- angota kelompok, dan disini unsure kebersamaan sangat memegang peranan. Pada wewenang territorial, wilayah atau tempat tinggal mempunyai peranan penting. Pada kelompok territorial unsure kebersamaan cenderung berkurang karena desakan factor- factor individualisme.

2.1.4. Wewenang Terbatas dan Menyeluruh

Suatu dimensi lain dari wewenang adalah perbedaan antara wewenang terbatas dengan wewenang menyeluruh. Apabila dibicarakan tentang wewenang terbatas, maksudnya adalah wewenang yang tidak mencakup semua sector atau bidang kehidupan, tetapi terbatas pada salah satu sector atau bidang saja. Sementara itu wewenang menyeluruh adalah wewenang yang tidak dibatasi oleh sector atau bidang tertentu.

BAB III

Kepemimpinan

3.1 Pengertian

Kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan seseorang (yaitu pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang di pimpin atau pengikut- pengikutnya) sehingga orang lain tersebut bertingkah-laku sebagaimana di kehendaki seorang pemimpin tersebut. Kadang kala di bedakan antara kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai proses social. Kepemimpinan ada yang bersifat resmi (formal leadership), yaitu kepemimpinan yang tersimpul pada suatu jabatan. Ada pula kepemimpinan karena pengakuan dari masarakat akan kemampuan seseorang untuk menjalani kepemimpinan.

3.2. Perkembangan Kepemimpinan dan sifat- sifat Seorang pemimpin

Kepemimpinan merupakan hasil organisasi social yang telah terbentu atau sebagai hasil dinamika interaksi social. Sejak mula terbentuknya kelompok social, seseorang atau beberapa orang di antara warga- warganya melakukan peranan yang lebih aktif dari pada rekan- rekanya sehinga seorang tadi atau beberapa di antara mereka tampak lebih menonjol diantara lain- lainya. Itulah awal mula terbentuknyaa suatu kepemimpinan yang kebanyakan timbul dan berkembang dalam struktur social yang kurang stabil.

Sifat- sifat yang disyaratkan bagi seorang pemimpin tidaklah sama pada setiap masarakat, walaupun tidak jarang terdapat persamaan- persamaan disana- sini. Di kalangan masarakat Indonesia, sifat- sifat yang harus di penuhi oleh seorang pemimpin, antara lain dapat dijumpai dalam apa yang merupkan warisan tradisional Indonesia, misalnya dalam “ Asta Brata” yang merupakan kumpulan seloka dalam Ramayana, yang memuat ajaran Sri Rama kepada Bharata, yaitu adiknya dari lain ibu.

Menurut Asta Brata, pada diri seorang raja terkumpul sifat- sifat dari delapan dewa yang masing- masing mempunyai kepribadian sendiri. Kedelapan sifat dan keperibadian tersebutlah yang harus di jalankan oleh seorang raja (pemimpin) yang baik asta brata dalam kakawin Ramayana terdiri dari sepuluh seloka, dimana seloka pertama dari kedua, pad pokoknya berisi hal- hal berikut:

a. Asta Brata merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan

b. Asta Brata memberikan kepastian bahwa seseorang pemimpin yang menjalankan akan mempunyai kekuasaan dan kewibawaan sehingga akan dapat menggerakan bawahanya. Keadaan demikian dapat menghindari terjadinya krisis kepemimpinan. Krisis kepemiminan akan terjadi karena pemimpin tidak berani mengambil keputusan, bertindak, dan tidak jujur

Ajaran tradisional di jawa juga mengambarkan tugas seorang pemimpin melalui pepatah sebagai berikut:

Ing ngarso sung tuladha

Ing madya mangun karsa

Tut wuri handayani

Di dalam bahasa Indonesia ini berarti:

Di muka bumi memberikan tauladan

Di tengah- tengah membangun semangat

Dari belakang memberikan pengaruh

Demikianlah beberapa sifat atau syarat yang harus di miliki oleh seseorang pemimpin yang baik menurut metologi Indonesia . sifat- sifat tersebut dengan perubahan disana- sini dapat pula kita terapkan pada kepemimpinan yang modern.

3.3. Sandaran- sandaran Kepemimpinan dan Kepemimpinan yang Diangap Efektif

Kepemimpinan seseorang pemimpin harus mempunyai sandaran- sandaran kemasarakatan atau social basis. Pertama- tama kepemimpinan sangat erat hubunganya dengan susunan masarakat. Masarakat- masarakat yang agraris dimana belum ada spesialisasi biasanya kepemimpinan meliputi seluruh bidang masarakat.

Kekuatan kepemimpinan biasanya juga ditentukan oleh suatu lapangan kehidupan masarakat yang pada suatu saat mendapat perhatian khusus dari masarakat yang disebut cultural focus. Setiap kepemimpinan yang efektif haruslah memperhitungkan social basis apabila tidak menghendaki timbulnya ketegangan- ketegangan atau setidak- tidaknya terhindar dari pemerintahan boneka belaka.

Dengan demikian keputusan seorang pemimpin haruslah menjunjung tinggi keadilan bagi masarakat tersebut. Maka bisa kita simpulkan bahwasanya kepemimpinan yang tradisonal ditengah masarakat yang homogen sangat berbeda kalau kita bandingkan dengan kondisi kepemimpinan pada masarakat perkotaan. Oleh karena itu apabila kepemimpinan itu ingin dikatakan sebagai kepemimpinan yang efektif haruslah jelas penerapanya pada kondisi masarakat yan bagaimana.

3.4. Tugas dan Metode

Secara sosiologis, tugas- tugas pokok seorang pemimpin adalah sebagai berikut:

a. Memberikan suatu kerangka pokok yang jelas dapat dijadikan pegangan bagi pengikut- pengikutnya.

b. Mengawasi, mengendalikan, serta menyalurkan perilaku warga masarakat yang dipimpinya

c. Bertindak sebagai wakilkelompok pada dunia di luar kelompok yang dipimpin

Suatu kepemimpinan (leadership) dapat dilaksanakan atau diterapkan dengan berbagai cara (metode). Cara- cara tersebut lazimya dikelompokan dalam kategori- kategori, sebagai berikut:

a) Cara- cara Otoriter

Cara ini memiliki ciri- ciri pokok berikut ini:

1. Pemimpin menentukan segala kegiatan kelompok secara sepihak

2. Pengikut sama sekali tidak di ajak untuk ikut serta merumuskan tujuan- tujuan kelompok dan cara- cara untuk mencapai tujuan tersebut

3. Pemimpin terpisah dari kelompok dan seakan-akan tidak ikut dalam proses interaksi di dalam kelompok tersebut

b) Cara- cara Demokratis

Cara ini memiliki ciri- ciri umum sebagai berikut:

1. Secara musawarah untuk mufakat pemimpin mengajak warga atau angota kelompok untuk ikut serta merumuskan tujuan- tujuan yang harus dicapai kelompok, serta cara- cara untuk mencapai tujuan tersebut

2. Pemimpin secara aktif memberikan saran serta petunjuk- petunjuk

3. Ada kritik positif dari pemimpi maupun angota kelompok tersebut

4. Pemimpin secara aktif ikut berpartisipasi didalam kegiatan- kegiatan kelompok

c) Cara- cara Bebas

Cara ini memeiliki ciri- ciri pokok sebagai berikut:

1. Prmimpin menjalankan peranya secara pasif

2. Penentuan tujuan yang akan dicapai kelompok sepenuhnya di serahkan pada kelompok

3. Pemimpin hanya memberikan sarana kepeda kelompok

4. Pemimpin berada di tengah- tengah kelompok tetapi hanya berperan sebagai penonton.

3.5. Loyalitas Pemimpin Saat ini

Loyalitas para pemimpin bangsa saat ini sangatlah kurang berkesan dihati para rakyatnya tidak seperti pemimpin- pemimpin yang terdahulu. Indonesia saat ini sangat membutuhkan pemimpin yang moderen dan dekat dengan rakyatnya, arif, jujur, bijaksana, dan tegas dalam melakukan setiap tindakanya. Negara seperti Indonesia sangatlah membutuhkan pemimpin yang mempunyai loyalitas penuh terhadap rakyat yang di pimpinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar